Jumat, 16 Oktober 2015

The Conqueror---

 “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”
[H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

Kalimat di atas bukan hanya sebatas kalimat yang tak berarti maupun tak berfungsi, bukan sekedar kalimat biasa yang mungkin tak bermakna.Kalimat itu mengandung arti dan energi yang bahkan tak bisa terdefinisi secara pasti, kalimat di atas menjadi kalimat motivasi yang mampu memacu semangat hebat untuk setiap roda kepemimpinan setelah wafatnya Nabi Muhammad.Kalimat tersebut adalah sabda Nabi Muhammad SAW yang terjamin kebenaran dan keakuratan nya.Janji yang pasti akan di dapati untuk mereka yang sungguh-sungguh berazzam dan berjuang.Pada akhirnya terpilihlah satu sosok yang begitu istimewa dengan gelar “Sang Penakluk” untuk membuktikan kebenaran bisyarah Rasulullah SAW.
--Who is He?--

Sultan Mehmet II atau lebih familiar dengan nama Muhammad Al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H atau 30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.
Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya.Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Mehmet kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang.
            Perhatian Sultan Murad II juga terlihat dari kepercayaan nya kepada Al-Fatih, dia memberikan amanah kepada Al-Fatih  untuk menjadi gubernur Amasya pada usia 6 tahun.Usia yang begitu belia untuk memimpin sebuah wilayah, tentu saja ini bukan perkara yang ringan ada banyak masalah yang muncul dan menjadikan pandangan kurang baik dari pihak rakyat kepada Al-Fatih.Namun, justru kesempatan inilah yang menjadi guru kehidupan terbaik untuk Al-Fatih dalam menghadapi dan menjalankan roda kepemimpinan nya di masa depan.
Merpati jinak telah pergi yang ada hanyalah elang raksasa yang siap mencengkram konstantinopel
--SANG PENAKLUK--
Sultan Muhammad II resmi diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Program besar yang langsung ia canangkan ketika menjabat sebagai khalifah adalah menaklukkan Konstantinopel.Kota yang mampu bertahan selama 1.123 tahun dengan 23 serangan ari segala penjuru.Konstantinopel hanya mampu dikalahkan satu kali oleh pasukan salib pada tahun 1.204.
Langkah pertama yang Sultan Muhammad lakukan untuk mewujudkan cita-citanya adalah melakukan kebijakan militer dan politik luar negeri yang strategis. Ia memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya. Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan Bizantium Romawi di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun militer.
Sultan Muhammad II juga menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.
Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak mula. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.
Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.
Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.
Di balik semua kehebatan dan ketangguhan Muhammad Al-Fatih, sejatinya ia memiliki guru atau murabbi yang luar biasa, sosok istimewa yang senantiasa sabar mendidik,membimbing dan mengarahkan Al-Fatih menuju jalan kebenaran yang penuh barokah dan ridlo-Nya.Sosok guru yang dengan tegas menempa Al-Fatih menjadi seorang pemimpin yang dengan izin-Nya mampu menjadi sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik komando atas pasukan nya.Guru besar tersebut bernama Aaq Syamsudin dan Ahmad Al Kurani.Aaq Syamsudin selalu mendorong Al-Fatih dengan kalimat “sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya”, di saat Al-Fatih mulai lelah dan futur Aaq Syamsudin memliki peran yang luar biasa tak terkira, mendorong semangat Al-Fatih untuk kembali menata niat dengan semangat sesuai dengan tujuan mula ia berangkat berjihad, yaitu menkalukan konstantinopel.
Peperangan dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.
Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lau akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.
Setelah penaklukan yang begitu mengagumkan, Al-Fatih kembali menunjukkan sifat kepribadian nya yang begitu menawan, meski ia menjadi penguasa baru di konstantinopel ia tak memaksakan kehendak seluruh rakyatnya untuk memeluk islam dan hanya menyembah Allah SWT. Al-Fatih membebaskan seluruh rakyatnya untuk memeluk agama sesuai kepercayaan mereka, dan
Kekuatan yang ada pada diri Al-Fatih tak kalah luar biasa yaitu, semenjak ia memasuki usia baligh ia tak pernah meninggalkan sholat tahajud, tak pernah absen untuk sholat berjamaah pada barisan atau shof pertama, rajin menjalankan berbagai macam amalan-amalan sunnah.Kekuatan langka inilah yang menempatkan Al-Fatih dengan gelar “The Conqueror”. Semoga seiring berjalannya waktu dan perputaran zaman mulai muncul Al-Fatih baru yang siap membantu dan menegakkan kebenaran di muka bumi.
 --The end of history--
 Tak ada manusia yang sempurna bahkan abadi, pada ujung cerita Al-Fatih harus kembali pada ilahi rabbi, Al-Fatih meninggl pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad al-Fatih pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan sakit yang ia derita kian parah dan semakin berat ia rasakan. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun dokter dan obat tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M. Saat itu Sultan Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang mengatakan wafatnya Sultan Muhammad al-Fatih karena diracuni oleh dokter pribadinya Ya’qub Basya, Allahu a’lam.
--Al-Fatih the next--
Begitulah sedikit cerita dari proses perjalanan kehidupan sang penkaluk Muhammad Al-Fatih.Semoga dengan uraian yang sedikit di atas mampu membuka pikiran dan mata hati kita (pemuda, baca) untuk terus berjuang menegakkan kebenaran, untuk terus berkorban demi kebaikan.Karena sungguh janji Allah itu pasti, tak ada kebaikan yang sia-sia, sekecil maupun seringan apapun itu, malaikat akan mencatatnya dan Allah akan membalasnya dengan balasan terbaik menurut-Nya.Tak lagi ada waktu untuk menunggu, kini saatnya untuk bangkit dan maju menjadi generasi yang tidak hanya "BIASA SAJA" namun nyata menjai generasi "LUAR BIASA" because We are the real agent of change and we are Al-Fatih the next!!!
Daftar Pustaka:
Share:

2 komentar:

  1. Masyallah.. Muhammad Al-Fatih memang harus di jadikan tauladan, terutama bagi pemuda Islam saat ini

    BalasHapus
  2. Informasinya menarik banget nayyy :) Good

    BalasHapus